- 1. Jaringan Komputer
- 2. Pengertian Jaringan komputer Jaringan komputer adalah suatu bentuk rangkaian dari beberapa komputer dan peralatan komunikasi lainnya yang saling berhubungan.
- 3. Macam-macam jaringan berdasar sistem Jaringan Peer to Peer Suatu bentuk jaringan yang menghubungkan komputer dengan komputer maupun peralatan lainnya tanpa adanya server. Jaringan Client Server Suatu jaringan komputer dimana salahsatu PC menjadi server.
- 4. Macam-macam jaringan berdasar skala LAN (local area network) Jaringan komputer yang berbasis lokal artinya ruanglingkup kecil. MAN (metropolitan area network) Jaringan komputer dengan ruanglingkup lebih besar dari LAN. WAN (wide area network) Jaringan komputer dengan ruanglingkup yang lebih besar dari MAN.
- 5. Topologo jaringan Topologi adalah suatu pola hubungan antara terminal dalam jaringan komputer Topologi jaringan dapat dibagi menjadi 5 kategori utama seperti di bawah ini. 1. • Topologi bintang 2. • Topologi cincin 3. • Topologi bus 4. • Topologi mesh/jala 5. • Topologi linier
- 6. 1. Topologi bintang Topologi bintang merupakan bentuk topologi jaringan yang berupa konvergensi (satu titik pertemuan) dari node tengah ke setiap node atau pengguna.
- 7. 2. Topologi Cincin Topologi cincin adalah topologi jaringan berbentuk rangkaian titik yang masing-masing terhubung ke dua titik lainnya, sedemikian sehingga membentuk jalur melingkar membentuk cincin.
- 8. 3. Topologi Bus Topologi Bus merupakan topologi yang banyak digunakan pada masa penggunaan kabel sepaksi menjamur. Dengan menggunakan T-Connector (dengan terminator 50ohm pada ujung network), maka komputer atau perangkat jaringan lainnya bisa dengan mudah dihubungkan satu sama lain.
- 9. 4. Topologi Jala/Mesh Topologi Jala atau Topologi mesh adalah suatu bentuk hubungan antar perangkat dimana setiap perangkat terhubung secara langsung ke perangkat lainnya yang ada di dalam jaringan.
- 10. 5. Topologi Runtut (linear topology) Satu kabel utama menghubungkan tiap titik sambungan (komputer) yang dihubungkan dengan penyambung yang disebut dengan Penyambung-T dan pada ujungnya harus diakhiri dengan sebuah penamat (terminator).
- 11. Peralatan Jaringan Peralatan dalam jaringan komputer meliputi : 1. Mobile/Desktop PC 2. Kabel 3. Switch/Hub 4. AP (access point) 5. Router
- 12. 1. Mobile/Desktop PC Merupakan perangkat akses untuk pengguna, mobile PC pada umumnya sudah terpasang port PCMCIA. Sedangkan Desktop PC harus ditambahkan Wireless Adapter melalui PCI (Peripheral Componentinterconnect) Card atau USB (Universal Serial Bus).
- 13. 2. Kabel Dalam jaringan komputer dikenal banyak jenis kabel yang digunakan seperti Kabel Coaxial, Kabel UTP, kabel Fiber Optik, dll, tetapi yang paling banyak digunakan adalah kabel UTP. Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) sendiri di bagi menjadi 2 jenis yaitu. 1. Kabel UTP straight untuk menghubungkan perangkat yang beda, misal komputer-switch 2. Kabel UTP Cross untuk menghubungkan perangkat yang beda, misal switch-switch
- 14. 3. Switch/Hub Switch/Hub adalah perangkat untuk menghubungkan komputer-komputer dalam satu jaringan, switch/hub berfungsi sebagai titik pusat dalam topologi bintang. Sekarang fungsi hub telah banyak di gantikan oleh switch karena penggunaan switch lebih efisien dari pada hub.
- 15. 4. AP (access point) Access-Point berfungsi mengkonversikan sinyal frekuensi radio (RF) menjadi sinyal digital yang akan disalurkan melalui kabel, atau disalurkan ke perangkat WLAN yang lain dengan dikonversikan ulang menjadi sinyal frekuensi radio.
- 16. 5. Router Router adalah perangkat dalam jaringan komputer yang berfungsi untuk menghubungkan komputer yang berbeda jaringan. Misal jaringan komputer di elektro dihubungkan dengan jaringan komputer yang ada di otomotif.
- 17. Kelas Jaringan Ip address dibagi menjadi 2 bagian yaitu Network ID dan Host ID, Network ID yang akan menetukan alamat dalam jaringan (network address) sedangkan Host ID menentukan alamat dari peralatan. Ibaratkan Network ID Nomor jalan dan alamat jalan sedangkan Host ID adalah nomor rumahnya IP address dibagi menjadi kelas yaitu :
- 18. Kelas IP Kelas A Kelas a adalah kelas dengan jumlah ip terbanyak yaitu sekitar 16.777.216 ip dan biasa di gunakan dalam jaringan yang berskala besar, misal jaringan Indosat, Telkomsel, dll. Kelas B Kelas b adalah kelas dengan jumlah ip sekitar 65.538 ip dan biasa di gunakan dalam jaringan yang berskala menengah, misal jaringan dalam gedung. Kelas C Kelas cadalah kelas dengan jumlah ip sekitar 256 ip dan biasa di gunakan dalam jaringan yang berskala kecil, misal jaringan dalam ruang.
NadiyaTulus
Jumat, 14 November 2014
Jaringan Komputer
Harga Pokok Produksi
Membukukan
data persediaan bahan baku ke kartu persediaan bahan baku, membuat laporan
ikhtisar persediaan bahan baku, dan melakukan pencocokan fisik dengan kartu
persediaan bahan baku secara periodic
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran 2
Peserta diklat
mampu ;
-
menjelaskan
prosedur pencatatan mutasi bahan baku
-
membuat
laporan ikhtisar persediaan bahan baku
-
melakukan
perhitungan fisik persediaan
a.
Uraian
Materi 2:
Prosedur permintaan dan pengeluaran bahan baku
Bagian produksi yang membutuhkan bahan, mengisii bukti
permintaan bahan sebanyak 3 lembar. Setelah bukti permintaan bahantersebut
diotorisasi oleh yang berwenang, 3 lembar bukti permintaan bahan tersebut
dibawah kebagian gudang.
Bagian gudang menyiapkan bahan baku sesuai dengan yang
tercantum dalam bukti permintaan bahan dan menyerahkannya pada bagian produksi
yang membutuhkannya. Bagian gudang mengisi jumlah bahan baku yang diserahkan
pada kolom “diserahkan” dalam bukti
permintaan bahan dan setelah diotorisasi oleh kepala bagian gudang, 3 lembar
bukti permintaan bahan tersebut oleh bagian gudang dibagikan sebagai berikut :
Lembar 1 bagian akuntansi persediaan
Lembar 2 arsip begian gudang
Lembar 3 diserahkan kembali kepada bagian produksi
yang meminta bahan baku bersaman dengan penyerahan bahan baku.
Bagian gudang mencatat pemakaian bahan baku ini di
dalam kartu gudang pada kolom
“dipakai” dan mencatatnya pula
pada kartu bahan. Bagian akuntansi pesediaan menerima bukti permintaan bahan
lembar 1 dari bagian gudang, kemudiaan mengisi informasi harga satuan dan
menghitung serta mencantumkan jumlah harga pokok bahan baku yang dpakai dalam
bukti permintaan bahan tersebut. Informasi mengenai harga satuan diperoleh dari
kartu harga pokok persediaan bahan baku yang bersangkutan.
Metode pencatatan biaya bahan baku
Ada 2 macam metode pencatatan biaya bahan baku yang
dipakai dalam proses produksi yaitu:
1.
metode
mutasi persediaan (Perfectual Inventory
Methode)
2.
metode
persediaan fisik (Physical Inventory Methode)
Dalam metode mutasi persediaan setiap mutasi bahan
baku dicatat dalam kartu persediaan bahan baku. Dalam metode persediaan fisik,
hanya tambahan persedian bahan baku dari pembelian saja yang dicatat, sedangkan
mutasi berkurangnya bahan baku karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk
mengetahui berapa biaya bahan baku yang dipakai dalam produksi, harus dilakukan
dengan cara menghitung sisa persediaan bahan baku yang masih ada digudang pada
akhir periode akuntansi. Harga pokok persediaan ditambah dengan harga pokok
bahan baku yang dibeli selama periode dikurangi dengan harga pokok persediaan
bahan baku pada akhir periode merupakan biaya bahan baku yang dipakai dalam
proses produksi selama periode yang bersangkutan.
Macam-macam metode penentuan harga pokok bahan baku
yang dipakai dalam proses produksi diantaranya adalah :
a.
Metode
Masuk Pertama Keluar Pertama ( MPKP )
Metode MPKP menentukan biaya bahan baku dengan anggapan
bahwa harga pokok persatuan bahan baku yang pertama masuk dalam gudang
digunakan untuk menetukan untuk menentukan harga bahan baku yang pertama kali
dipakai.
b.
Metode
Masuk Terakhir Keluar Pertama ( MTKP )
Metode MTKP menentukan harga pokok bahan baku yang
dipakai dalam proses produksi dengan anggapan bahwa harga pokok persatuan bahan
baku ang terakhir masuk dalam persediaan gudang, dipakai untuk menentukan harga
pokok bahan baku yang pertama kali dipakai dalam produksi
c.
Metode
rata-rata bergerak ( Average Methode )
Dalam metode ini persediaan bahan baku yang ada
digudang dihitung harga pokok rata-ratanya dengan cara membagi total harga
pokok dengan jumlah satuannya. Setiap kali terjadi pembelian yang harga pokok
persatuannya berbeda dengan harga pokok rata-rata persediaan yang ada digudang,
harus dilakukan perhitungan harga pokok rata-rata persatuan yang baru. Bahan
baku yang dipakai dalam proses produksi dihitung harga pokoknya dengan
mengalikan jumlah satuan bahan baku yang dipakai dengan harga pokok rata-rata
persatuan bahan baku yang ada digudang. Metode ini disebut pula dengan metode
rata-rata tertimbang, karena dalam menghitung rata-rata harga pokok persediaan
bahan baku metode ini menggunakan kuantitas bahan baku sebagai angka
penimbangnya.
Mutasi persediaan bahan baku yang terjadi akibat
pembelian dan pemakaian dicatat dalam buku jurnal sebagai berikut :
1.
Pembelian
bahan baku
a.
Metode
Perpektual
Persediaan Bahan baku Rp.
XX
Kas/hutang
dagang Rp.
XX
b.
Metode
Fisik
Pembelian bahan baku Rp.
XX
Kas/Hutang
dagang Rp.
XX
2.
Pemakaian
Bahan Baku
a.
Metode
Perpektual
Barang dalam proses biaya bahan baku Rp. XX
Persediaan
bahan baku Rp.
XX
b.
Metode
fisik
Tidak dijurnal, karena pemakaian bahan baku dapat
diketahui apabila persediaan akhir bahan baku sudah diketahui pada akhir
periode
Contoh :
PT.
Lembayung merupakan perusahan industri yang bergerak dalam bidang pembuatan
tempe yang mempunyai data persediaan bahan baku berupa :
Kacang
kedele kualitas A pada tanggal 1 Agustus 2005 terdiri dari :
- 5000 Kg.
@Rp.2.000,- =
Rp.10.000.000,-
- 7000 Kg.
@Rp. 2.050,- =
Rp.14.350.000,-
Transaksi
pembelian dan pemakaian bahan baku selama bulan agustus 2005 adalah sebagai
berikut :
Agustus 5, Pembelian 10.000
Kg @Rp.2.100
7, Pemakaian 6.000
Kg
12, Pemakaian 9.000
Kg
19, Pembelian 12.000 Kg @Rp.2.000,-
20, Pemakaian 7.500 Kg
Berdasarkan
contoh soal diatas, dapat dikerjakan dengan metode :
1.
Metode
Perpektual
KARTU PERSEDIAAN
Metode :
MPKP
|
Tgl
|
Pembelian
|
Pemakaian
|
Saldo
|
||||||
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
|
|
Agst, 1
|
|
|
|
|
|
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.000
|
2.050
|
14.350.000
|
|
5
|
10.000
|
2.100
|
21.000.000
|
|
|
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.000
|
2.050
|
14.350.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.000
|
2.100
|
21.000.000
|
|
7
|
|
|
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
6.000
|
2.050
|
12.300.000
|
|
|
|
|
|
1.000
|
2.050
|
2.050.000
|
10.000
|
2.100
|
21.000.000
|
|
12
|
|
|
|
6.000
|
2.050
|
12.300.000
|
7.000
|
2.100
|
14.700.000
|
|
|
|
|
|
3.000
|
2.100
|
6.300.000
|
|
|
|
|
19
|
12.000
|
2.060
|
24.720.000
|
|
|
|
7.000
|
2.100
|
14.700.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12.000
|
2.060
|
24.720.000
|
|
20
|
|
|
|
7.000
|
2.100
|
14.700.000
|
11.500
|
2.060
|
23.690.000
|
|
|
|
|
|
500
|
2.060
|
1.030.000
|
|
|
|
|
|
|
|
45.720.000
|
|
|
46.390.000
|
|
|
|
Jadi harga pokok bahan baku yang dipakai
untuk proses produksi sebesar Rp.46.390.000,-
KARTU PERSEDIAAN
Metode :
MTKP
|
Tgl
|
Pembelian
|
Pemakaian
|
Saldo
|
||||||
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
|
|
Agst, 1
|
|
|
|
|
|
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.000
|
2.050
|
14.350.000
|
|
5
|
10.000
|
2.100
|
21.000.000
|
|
|
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.000
|
2.050
|
14.350.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.000
|
2.100
|
21.000.000
|
|
7
|
|
|
|
6.000
|
2.100
|
12.600.000
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.000
|
2.050
|
14.350.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.000
|
2.100
|
8.400.000
|
|
12
|
|
|
|
4.000
|
2.100
|
8.400.000
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
5.000
|
2.050
|
10.250.000
|
2.000
|
2.050
|
4.100.000
|
|
19
|
12.000
|
2.060
|
24.720.000
|
|
|
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.000
|
2.050
|
4.100.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12.000
|
2.060
|
24.720.000
|
|
20
|
|
|
|
7.500
|
2.060
|
15.450.000
|
5.000
|
2.000
|
10.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.000
|
2.050
|
4.100.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.500
|
2.060
|
9.270.000
|
|
|
|
|
45.720.000
|
|
|
46.700.000
|
|
|
|
Jadi harga pokok bahan baku yang dipakai
untuk proses produksi sebesar Rp.46.700.000,-
KARTU PERSEDIAAN
Metode :
Rata-Rata Bergerak
|
Tgl
|
Pembelian
|
Pemakaian
|
Saldo
|
||||||
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
|
|
Agst, 1
|
|
|
|
|
|
|
12.000
|
2.029,17
|
24.350.000
|
|
5
|
10.000
|
2.100
|
21.000.000
|
|
|
|
22.000
|
2.061,36
|
45.350.000
|
|
7
|
|
|
|
6.000
|
2.061,36
|
12.368.160
|
16.000
|
2.061,36
|
32.981.840
|
|
12
|
|
|
|
9.000
|
2.061,36
|
18.552.240
|
7.000
|
2.061,36
|
14.429.600
|
|
19
|
12.000
|
2.060
|
24.720.000
|
|
|
|
19.000
|
2.060,50
|
39.149.600
|
|
20
|
|
|
|
7.500
|
2.060,50
|
15.453.750
|
11.500
|
2.060,50
|
23.695.850
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
45.720.000
|
|
|
46.374.150
|
|
|
|
Jadi harga pokok bahan baku yang dipakai
untuk proses produksi sebesar Rp.46.374.150,-
2.
Metode
Fisik
a.
Metode
MPKP
Perhitungan harga pokok persediaan akhir bahan baku :
- 11.500 Kg @Rp.2.060 =Rp.23.690.000,-
Jadi harga pokok bahan baku yang dipakai untuk proses
produksi dihitung sebagai berikut :
Persediaan awal :
-5.000 Kg @Rp.2.000,- =Rp.10.000.000,-
-7.000 Kg @Rp.2.050,- =Rp.14.350.000,-
Rp.24.350.000,-
Pembelian :
- 5 Agustus 10.000
Kg @Rp.2.100,- =Rp.21.000.000,-
- 19Agustus 12.000 Kg @Rp.2.060,- =Rp.24.720.000,-
Rp.45.720.000,-
Bahan baku siap diproduksi Rp.70.070.000,-
Persediaan akhir Bahan baku (Rp.23.690.000,-)
Harga pokok bahan baku yang diproduksi Rp.46.380.000,-
=============
b.
Metode
MTKP
Perhitungan harga pokok persediaan akhir bahan baku :
-5.000 Kg @Rp.2.000,- =Rp.10.000.000,-
-6.500 Kg @Rp
2.050,- =Rp
13.325.000,-
Rp 23.325.000,-
Jadi harga pokok bahan baku yang dipakai untuk proses
produksi dihitung sebagai berikut:
Persediaan awal bahan baku Rp
24.350.000,-
Pembelian total
Rp 45.720.000,-
Bahan
baku siap diproduksi
Rp 70.070.000,-
Persedian
akhir bahan baku (Rp
23.350.000,-)
Harga pokok bahan baku yang diproduksi Rp
46.645.000,-
=============
c.
Metode
Rata-Rata Bergerak
Perhitungan harga pokok persediaan akhir bahan baku :
Perhitungan harga pokok rata-rata:
Persediaan
awal 5.000
Kg @Rp 2.000,- = Rp
10.000.000,-
7.000
Kg @Rp 2.050,- = Rp
14.350.000,-
Pembelian 5
Agustus 10.000 Kg@Rp.2.100,- =
Rp.21.000.000,-
19Agustus 12.000Kg
@Rp.2.060,- = Rp.24.720.000,-
34.000.Kg Rp.70.070.000,-
======== =============
Harga pokok rata-rata per kg =Rp.70.070.000,- : 34 Kg =Rp.2.060,88/kg
Jadi harga pokok persediaan akhir bahan baku sebesar :
11.500 Kg @Rp.2.060,88 =Rp.23.700.120,-
Jadi harga pokok bahan baku yang dipakai untuk proses
produksi adalah sebagai berikut :
Persediaan awal bahan baku Rp
24.350.000,-
Pembelian total
Rp 45.720.000,-
Bahan
baku siap diproduksi
Rp 70.070.000,-
Persedian
akhir bahan baku (Rp
23.700.120,-)
Harga pokok bahan baku yang diproduksi Rp
46.369.880,-
=============
Laporan Ikhtisar persediaan bahan baku
Laporan Ikhtisar persediaan bahan baku
adalah laporan yg menyajikan sisa atau
saldo persediaan akhir bahan baku dari kartu persediaan untuk masing- masing
bahan pada suatu periodi tertentu.
Laporan ini disusun atas dasar jenis dan
jumlah bahan yg tercantum dalam kartu persediaan bahan baku. Kartu persediaan
barhan baku merupakan buku pembantu yg berisi informasi baik mengenai kuantitas
maupun harga pokok persediaan bahan baku
. Kartu persediaan ini digunakan utk mencatat mutasi persediaan dan saldo tiap
jenis persediaan baik kuantitas maupun harga pokoknya.
Contoh Formuler Kartu Persediaan
adalah sbb :
|
KARTU
PERSEDIAAN
|
||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
|
Nama
Barang :
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||||||||||
|
Spesifikasi
|
Kode Barang
|
Satuan
|
Titik Pemesanan
|
EOQ
|
Gudang
|
No. Lantai
|
No Lokasi
|
No Rak
|
Minimum
|
Maximum
|
||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||||||||||
|
Pembelian
|
Penerimaan
|
Pemakaian
|
Saldo
|
|||||||||||||||||||||||||
|
Tgl
|
N
SOP
|
Jml
Dipesan
|
Jml
Diterima
|
Sisa
Pesanan
|
Tgl
|
NoLPB
|
Kuantitas
|
Harga
Satuan
|
Jml
Harga
|
Tgl
|
NoBPPB
|
Kuantitas
|
Harga
Satuan
|
Jml
harga
|
Kuantitas
|
Harga
Satuan
|
Jml
Harga
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||||
Dari catatan saldo kartu persediaan, kemudian
dibuat Laporan Persediaan Bahan Baku.
Adapun contoh format Laporan Persediaan Bahan baku adalah sebagai berikut :
PT………… :
Bulan :
|
No.
Urut
|
Kode
Bahan
|
Nama
Bahan
|
J
u m l a h
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Prosedur perhitungan fisik
persediaan
Dalam mengelola kartu persediaan barhan baku dibutuhkan perhitungan fisik persediaan bahan baku secara periodik dengan membuat berita acara
hasil perhitungan fisik persediaan bahan baku.
Formulir
perhitungan bisa dibuat satu jenis saja
yang dapat digunakan untuk mencatat hasil perhitungan kuantitas maupun untuk
mencatat harga. Namun demikian formulir juga bisa dibuat beberapa jenis, yaitu
untuk mencatat hasil perhitungan fisik,
untuk mencatat akumulasi informasi yang
tercantum pada formulir hasil
perhitungan fisik dan untuk mencatat
harga dan ikhtisar total
persediaan.
Untuk memudahkan hasil
perhitungan dan memperkuat pengendaliann
intern , perhitungan persediaan dilakukan dengan menggunakan alat Bantu formulir perhitungan yang
disesuaikan dengan cara kerja.
Formulir
terdiri dari tiga bagian yaitu :
1. Bagian pertama memuat data hasil perhitungan yang
dilakukan kelompok pertama.
2.Bagian
kedua memuat data hasil perhitungan kelompok kedua.
3. Bagian ketiga, apabilla perhitungan
telah selesai akan ditinggal pada barang dan
akan berfungsi sebagai tanda bahwa bahan bersangkutan telah
selesai dihitungdan tertulis atasnya
rata-rata selesai dihitung.
Selanjutnya
kelompok pertama melakukan perhitungan pertama dan mengisi data antara lain :
1.
Nomor persediaan
2.
.Uraian bahan
3.
Hasil perhitungan jumlah bahan
Data pertama, kedua dan ketiga dicatat pada
formulir bagian kedua, sedangkan data keempat ditulis pada formulir bagian
pertama .
Contoh formulir
perhitungan fisik persediaan :
Nomor : 1309
Selesai
dihitung
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Nomor : 1309
Hasil
perhitungan kedua
Nomor kode
bahan
------------------------------------------------------------------------------------------------
Uraian bahan
------------------------------------------------------------------------------------------------
Lokasi
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah
kuantitas bahan-------------------------------------------------------------------------------------------
Satuan
---------------------------------------------------------------------------------------
Dihitung
oleh
Nomor
1309
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hasil
Perhitungan Pertama
Jumlah Bahan Kuantitas
Satuan
Dihitung oleh
Setelah melakukan perhitungan persediaan
selanjutnya petugas perhitungan persediaan membuat berita acara pemeriksaan
seperti di bawah ini. :
BERITA ACARA
PERHITUNGAN
FISIK BAHAN BAKU
Pada hari …………………Tanggal…………………Tahun………………
Pukul…………..Telah
dilakukan pemeriksaan bahan baku di
gudang dengan kondisi sebagai berikut :
|
No.
|
Kode Bahan
|
Jenis Bahan
|
Data bahan sebelum
pemeriksaan
|
Data Setelah
diperiksa
|
Selisih
|
Keterangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Bagian
Persediaan Bagian
Perhitungan Fisik
Petugas I Petuas II Petugas III
----------------------
--------------------------
-----------------------
C. Rangkuman.
Metode pencatatan biaya bahan baku yang
dipakai dalam proses produksi meliputi meode mutasi persedian dan metode
persediaan fisik. Untuk menentukan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam
proses produksi digunakan beberapa metode yaitu, metode MPKP, MTKP dan rata-rat
bergerak . Pada akhir periode disusun laporan ikhtisar persediaan bahan baku.
Laporan persediaan bahan baku dapat digunakan pada semua metode
pencatatan, baik secara fisik atau
perpectual. Laporan ini disusun atas catatan saldo kartu Persediaan bahan baku berdasarkan jenis
dan kuantitas barang pada suatu periode tertentu
D. Tugas
- PT. Muda memiliki data persediaan bahan
baku selama periode bulan Agustus 2005 sbb :
Agustus 1 Persediaan awal 5.000 Kg @Rp.10.000,-
2 Pemakaian 2.500
Kg
3 Pembelian 7.000
Kg @Rp.10.100,-
8 Pemakaian 5.000
Kg
11 Pemakaian 2.000 Kg
16 Pembelian 8.000 Kg @Rp.10.200,-
20 Pemakaian 3.000 Kg
25 Pembelian 5.000 Kg @Rp.10.150,-
Berdasarkan
soal diatas diminta mencatat kedalam kartu persediaan bahan baku dengan metode
MTKP Perpektual
2. PT. Atok memakai
bahan baku jenis A1. Data mengenai persediaan bahan jenis A1 selama bulan Agustus 2005 sebagai
berikut :
2 Agst 2005 Persediaan 80 unit @ Rp. 24.000 Rp. 1920000
5 Agst 2005 Pembelian 120 unit @Rp
25.000 Rp 3000000
10 Agst
2005 Pemakaian 140 unit
16 Agst
2005 Pembelian 160 unit @Rp
26000 Rp
4160000
20 Agst
2005 Pemakaian 120 unit
26 Agst
2005 Pembelian 140 unit
@Rp 27000 Rp
3780000
Berdasarkan
perhitungan fisik di gudang jumlah bahan yang tersisa sebesar 180 unit dan
Buatlah kartu persediaan dengan metode masuk pertama keluar pertama.
Jawaban :
PT.MUDA KARTU
PERSEDIAAN Bahan :
JAKARTA
Satuan |: Kg
Metode :MTKP
|
Tgl
|
Dibeli
|
Dipakai
|
Saldo
|
||||||
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
|
|
Agst
1
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
5.000
|
10.000
|
50.000.000
|
|
2
|
|
|
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
5
|
7.000
|
10.100
|
70.700.000
|
|
|
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
-
|
7.000
|
10.100
|
70.700.000
|
|
8
|
|
|
|
5.000
|
10.100
|
50.500.000
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
|
|
|
|
-
|
-
|
-
|
2.000
|
10.100
|
20.200.000
|
|
11
|
|
|
|
2.000
|
10.100
|
20.200.000
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
16
|
8.000
|
10.200
|
81.600.000
|
|
|
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.000
|
10.200
|
81.600.000
|
|
20
|
|
|
|
3.000
|
10.200
|
30.600.000
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.000
|
10.200
|
51.000.000
|
|
25
|
5.000
|
10.150
|
50.750.000
|
|
|
|
2.500
|
10.000
|
25.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.000
|
10.200
|
51.000.000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.000
|
10.150
|
50.750.000
|
|
|
|
|
203.050.000
|
|
|
126.300.000
|
|
|
|
PT.
ATOK KARTU
PERSEDIAAN Bahan : A1
JAKARTA
Satuan : Unit
Metode :MPKP
|
Tgl
|
Diterima
|
Dipakai
|
Saldo
|
||||||
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
Unit
|
Harga
|
Jumlah
|
|
|
Agst.
2
|
|
|
|
|
|
-
|
80
|
24000
|
1920000
|
|
5
|
120
|
25000
|
3000000
|
-
|
-
|
-
|
80
|
24000
|
1920000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
120
|
25000
|
3000000
|
|
10
|
-
|
-
|
-
|
80
|
24000
|
-
|
|
|
|
|
|
|
|
|
60
|
25000
|
|
60
|
25000
|
1500000
|
|
16
|
160
|
26000
|
4160000
|
-
|
-
|
-
|
60
|
25000
|
1500000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
160
|
26000
|
4160000
|
|
20
|
|
|
|
60
|
25000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
100
|
26000
|
|
60
|
26000
|
1560000
|
|
26
|
140
|
27000
|
3780000
|
|
|
|
60
|
26000
|
1560000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
140
|
27000
|
3780000
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
30
|
420
|
78000
|
10940000
|
300
|
100000
|
-
|
200
|
-
|
5340000
|
Langganan:
Postingan (Atom)